Ada Yang Beda di 21 April Kemarin

aSTIE ‘YPPI’ (21/4), ada yang beda pada ujian sidang skripsi kali ini. Peserta ujian diwajibkan mengenakan kebaya bagi perempuan dan batik tulis lasem bagi laki-laki. Sama halnya juga dosen penguji mengenakan kebaya dan batik tulis lengan panjang. Beda seperti biasanya peserta ujian mengenakan kemeja putih berjas almamater. Hal ini dikarenakan untuk memperingati hari R.A. Kartini yang tepat pada hari Kamis (21/4) ini.

Ujian sidang skripsi prodi akuntansi kali ini diikuti enam mahasiswa. Empat diantaranya adalah perempuan. Mereka berdandan ala perempuan-perempuan pada zaman dahulu dengan mengenakan kebaya. Tidak merasa canggung ataupun gelisah saat mengenakan pakaian khas orang jawa ini. Panitia ujian memang mewajibkan peserta ujian sidang mengenakan pakaian tersebut. Diharapkan mahasiswa mewarisi semangat R.A. Kartini saat memperjuangkan hak-hak para perempuan zaman dahulu. Beda halnya mahasiswa pada kali ini memperjuangkan nasib mereka pada ujian sidang skripsi.

Saat ditemui salah satu peserta ujian, Fitri Cahyaning, mengungkapkan tentang hari diperingatinya R.A. Kartini, di era modern ini perempuan mengenakan pakaian seperti ini hanya pada saat kondangan ataupun acara resmi lainnya. Perempuan zaman saat ini lebih menyukai pakaian-pakaian yang modis, simple dan tidak ribet. Perempuan ini merasa terganggu saat ditanya oleh dosen penguji tentang skripsinya dikarenakan panas dan tidak leluasa saat memakainya. Hari peringatan R.A. Kartini zaman sekarang hanyalah merupakan seremonial saja kalau tidak ada perintah dari pemerintah setempat untuk mengenakan kebaya, tuturnya. Ironisnya tersebar luas “meme” foto-foto R.A Kartini di sosial media. Ada foto R.A Kartini yang diganti artis Syahrini atau foto-foto yang tidak pantas untuk seorang pahlawan. Perempuan kelahiran Rembang 21 Januari 1990 ini juga menuturkan, masih banyak sekali eksploitasi perempuan Indonesia yang kita jumpai di berbagai wilayah.

Akan tetapi banyak juga hal-hal positif yang bisa diambil dari sosok R.A Kartini, yaitu semangatnya dalam memperjuangkan kesetaraan hak perempuan dengan laki-laki. Perjuangan zaman R.A Kartini bagi Fitri adalah semangat memotivasi dalam mengerjakan segala hal di kehidupan sehari-hari meski kita harus bersusah payah terlebih dahulu. R.A Kartini dalam bukunya Habis Gelap Terbitlah Terang, mengatakan “Terkadang, kesulitan harus kamu rasakan terlebih dulu sebelum kebahagiaan yang sempurna datang kepadamu.”

Pertanyaanya, mengapa zaman sekarang tak ada lagi sosok Kartini?? Dimanakah perempuan-perempuan generasi muda saat ini??

Apa mungkin Kartini saat ini hanya tinggal nama???…… “Raden Ajeng Kartini”

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *