FGD Hasil Penelitian Hibah Bersaing

42Senin, 1 Agustus 2016 bertempat di STIE ‘YPPI’ Rembang diselenggarakan Focus Group Discussion hasil Penelitian Hibah Bersaing Kemenristek Dikti Tahun 2016. Kegiatan FGD dibuka oleh Ketua LPPM STIE ‘YPPI’ Rembang Anik Nurhidayati, SE., MM. peserta FGD diantaranya adalah Pengusaha Batik Tulis Lasem, akademisi, praktisi dan mahasiswa.

Muhammad Tahwin, SE., M.Si selaku peneliti Hiber dengan judul penelitian “Supply Chain Management Pada Industri Batik Tulis Lasem”, menyampaikan bahwa Supply chain management merupakan sistem dalam proses bisnis yang digunakan untuk mengatur rencana yang matang mulai dari bahan baku diperoleh hingga barang jadi yang dihasilkan sampai pada konsumen akhir.

Hasil dari penelitian pada tahun pertama yang dilakukan Tahwin adalah dihasilkannya Model pasokan bahan baku dan distribusi produk tanpa perantara, Model pasokan bahan baku dengan perantara dan distribusi produk produk tanpa perantara, Model pasokan bahan baku tanpa perantara dan distribusi produk dengan perantara, Model pasokan bahan baku dengan perantara dan distribusi produk dengan perantara.

Sementara itu Ir. Muntoha, MM yang juga Kepala Disperindagkop dan UMKM Kab. Rembang selaku Keynote Speaker menyampaikan beberapa paparan diantaranya  Pemerintah Kabupaten Rembang sangat mendukung kegiatan penelitian dari perguruan tinggi. Terkait keberadaan Batik Tulis Lasem, Muntoha menyampaikan bahwa batik tulis mempunyai akar budaya dengan yang sudah jelas, sehingga lebih mudah dalam penjualan. Jangan sampai batik Lasem tergeser oleh batik printing. Kepala Disperindagkop dan UMKM juga menyinggung tentang keberadaan Koperasi batik kurang berdaya karena manajemen dari pengrajin batik kurang baik.

Muhammad Tahwin juga menyampaikan paparan tentang Supply Bahan Baku dari Pemasok ke Industri Batik Tulis Lasem diantaranya kebiasaan dan relasi yang sudah terjalin dengan pemasok dari luar alasan utama adalah karena kualitas, mendapatkan harga yang termurah sehingga akan mempengaruhi harga jual produk, kecepatan pelayanan supplier dalam menyediakan barang yang dibutuhkan serta respon yang baik ketika ada complain, saling menjaga kepercayaan.

Selain itu Supply Produk dari Pengusaha Batik ke Konsumen diantaramya saluran distribusi yang digunakan adalah distribusi pendek atau distribusi langsung karena tidak menggunakan perantara, menjual produk yang dihasilkan melalui showroom, melalui pameran atau konsumen datang langsung ke produsen, sistem pemasaran yang digunakan adalah direct selling dengan melayani pembeli secara langsung, dengan dapat berinteraksi langsung dengan konsumen, pengusaha batik merasa dapat lebih dekat konsumen dan melayani dengan sebaik-baiknya sehingga kepuasan konsumen dapat tercapai, serta tidak memerlukan tambahan biaya yang akan dipergunakan untuk biaya pengangkutan atau perantara.

Hasil akhir dari diskusi pada workshop dalam kegiatan FGD ini bahwa pengrajin batik merasa hasil peneliti sesuai dengan fakta yang dirasakan oleh pengrajin serta pengrajin menginginkan ada tidak lanjut dari hasil penelitian karena permasalahan, kendala dan kondisi pengrajin sudah dapat dijelaskan dari hasil penelitian.

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *